Senin, 03 Februari 2014

Menembus Batas Nusa (from west to east)

14 Juni 2011 pukul 4:14

“ … wokey ketemu di Pulau Rinca … “, kira-kira begitu bunyi sms terakhir seorang kawan yang sedang berada di pulau Rinca, kawasan TN.Komodo, Flores, kira-kira satu minggu sebelum akhirnya aku benar-benar putuskan untuk pergi ke sana dengan cara backpacker.  Bukan tanpa alasan juga jika pada akhirnya aku benar-benar nekat, mimpi dari 8 tahun yang lalu rupanya benar-benar mewujud, terkontaminasi buku travel guide edisi “From Bali to East” karangan kal muller, terbitan Periplus yang kubeli. Buku itulah yang membuatku semakin penasaran dengan Indonesia Timur, yach walaupun baru sebatas sampai di Flores barat, tapi rasa penasaranku terobati sudah.
Gayung bersambut ketika kawanku Rizal yang bergiat di Bima mau aku ajak backpackeran dan juga beruntung ada teman yang lebih ku anggap sebagai sodara mempersilahkan kami untuk datang.
Perjalanan aku mulai dari terminal Mandalika, Mataram Pukul 15.00 Wita menggunakan Bis yang menuju Bima, meeting pointku dengan kawan adalah di kota Bima, ujung timur Pulau Sumbawa, NTB.  Lumayan panjang waktu perjalanan menuju Bima yakni 12 jam.  Pukul 17.30 Wita Bis sudah berada di Kapal Ferry untuk menyeberangi selat Sumbawa dari Pelabuhan Kayangan, Ujung Timur Pulau Lombok.  Ku ceritakan sedikit kawan, Labuhan Lombok ini konon katanya sebagai awal mula berdirinya kerajaan Selaparang, kerajaan besar yang ada di gumi Sasak, sebelum dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi setelah kerajaan dipandang maju pesat oleh pendirinya, yang kemudian orang-orang ramai menyebutnya kampung  Selaparang. Selama 2 jam aku menaiki Ferry  “ Minggis “ menuju ke Pelabuhan Poto Tano Sumbawa.  Seiring kapal laut ini bergoyang oleh gelombang laut, ada banyak hal yang ku amati diantaranya ; ada seorang yang yach mengaku seorang polisi (padahal menurutku tidak ada tampang dia seorang prajurit, ato mungkin dulu dia menyogok waktu akan masuk kesatuan akh aku ga tau), aku lebih tertarik memperhatikan gayanya yang sok-sokan pamerin senjatanya, walaupun kuakui itu pandangan yang memuakkan.  Tapi dari yang aku lihat itulah, ingatanku melayang pada obrolan suatu malam di kos dengan teman-teman.  Salah seorang teman kos bilang kalau menjadi polisi di Tanah Sumbawa itu merupakan hal yang membanggakan, bahkan tak perlulah dia mengejar-ngejar gadis, karena dengan sendirinya dia akan jadi rebutan para gadis.  Tak jarang jika berkembang rumor bahwa orang Sumbawa seringkali menghalalkan segala cara untuk mendapatkan calon suami/calon menantu seorang polisi.  Akh, tapi bukankah itu juga berlaku di daerahmu kawan?
Lupakan tentang cerita polisi, aku beralih ke sudut yang lain di kapal ini, ada perempuan paruh baya, so sexy, menggoda baik dari gaya maupun tuturnya.  Lumayan bisa menjadi ice breaker di tengah-tengah kejenuhan orang-orang menyeberang yang seakan tak sampai-sampai di Poto Tano, Sumbawa.  Bicaranya ngelantur seperti keong racun, tapi satu hal yang aku suka perempuan ini ngomong secara cablak (apa adanya), tanpa kepentingan dan sangat menghibur.  Kalau boleh membandingkan dengan anggota dewan, ehm..jauh, mereka lebih sering “ esuk dele, sore tempe” istilah Jawa untuk menggambarkan ketidakonsistenan.  Jujur saya salut dengan keberanian perempuan ini.  Singkat cerita yang ku tahu dia mendapatkan No Hp seorang yang yach mungkin hidung belang.  Begitulah 2 jam ku di Ferry terisi oleh hal-hal yang menarik hingga pada akhirnya sampai juga aku di Pelabuhan Poto Tano Sumbawa.
Bis membawaku melintas sepanjang pulau Sumbawa, pulau yang katanya banyak menyimpan harta alam, bukit-bukit kecil yang mengandung emas yang saat ini sedang ramai diperdebatkan dan menjadi rebutan penguasa negeri.  Aku ingin merasakan kelezatan ayam Taliwang di tempat asalnya, tapi aku juga harus membuang keinginan itu karena bis ini akan terus melaju dan baru berhenti ketika sampai di kota Bima.  Beranjak larut malam aku melintas sepanjang Dompu, Tak ada yang dapat kulihat dengan jelas dari dalam bis ini hanya sesekali melintas di perbukitan kecil.  Akh seandainya saja siang hari aku melintas di daerah ini tentunya aku akan melihat Gunung Tambora, gunung berapi dengan letusan terdahsyat sepanjang sejarah dunia.  Letusan yang pada tahun 1815 silam, tidak hanya mengakibatkan tiga kerajaan ( Pekat, Sanggar dan Tambora ) musnah tapi juga mempengaruhi perubahan musim sampai ke benua Eropa. Begitulah keperkasaan Gunung Tambora, gunung berapi tertinggi di pulau Sumbawa yang terletak diantara kabupaten Dompu dan Bima. Tambora  berada di wilayah jalur selatan gunung api atau yang biasa disebut jalur magmatic tua berumur 25 juta tahun, akrab di sebut pegunungan selatan (andesit tua), hal ini jugalah yang membuat pulau ini kaya kandungan emas primer. Akh,membicarakan Tambora ga akan ada bosannya, tunggu saja suatu saat aku pasti kesana.  Sepanjang Dompu-Bima ini kita akan melihat padang-padang tempat ribuan rusa berlarian.
Saat adzan Shubuh berkumandang, barulah perjalanan ini berakhir di kota Bima, di terminal Dara inilah meeting pointku dengan seorang temanku Rizal yang sama-sama bergiat di ke KPU an dan di KPA an. Setelah bersua, kami putuskan langsung mencari bis menuju pelabuhan Sape, tarif bis menuju pelabuahn ini sebesar 20 ribu.  Pelabuhan yang merupakan titik awal penyeberangan menuju Labuhan bajo, Flores.  Perjalanan sekitar 2 jam ini kami di suguhi musik keras-keras , khas Indonesia timur banget deh. Parahnya speakernya tepat berada di atas kursiku jadi alamat tak bisa memejamkan mata&tidur nih padahal malam tadi nyaris susah terpejam.  Akhirnya ya ku manfaatin aja buat memandang pemandangan sepanjang jalan, ada perkampungan dengan desain rumah panggung, padang sabana, bukit dan jurang terjal juga penduduk Bima pedalaman yang memakai sarung.
Setelah 2 jam yang menyiksa itu, pukul 07.00 Wita sampailah kami di pelabuhan Sape, setelah kami turun dari Bis, kami langsung mencari tiket Ferry yang akan menyeberang ke Labuhan bajo.  Kami membeli tiket Ferry yang harganya kurang dari 50 ribu dan langsung bersiap menuju pintu masuk Ferry, hanya saja berita tak mengasikkan datang dari petugas pemeriksaan tiket. Ada perubahan jadwal keberangkatan Ferry menuju Labuhan bajo lantaran masih ada puso (baca:truk) bermuatan solar yang masih berada di Bima, sehingga keberangkatan Ferry ini tertunda selama 3 jam. Huffth,…mau gimana lagi kalo ternyata ploting waktu yang sudah di atur terpaksa meleset, akhirnya ya kami tetap masuk ke Ferry sambil berfikir apa yang mau dilakukan selama 3 jam menunggu keberangkatan Ferry.   Akhirnya kawanku Rizal memanfaatkan waktu untuk tidur, maklum malam tadi dia bergadang supaya bisa on time tiba di meeting point kami.  Sedangkan aku, memanfaatkannya untuk recharge HP, di sela-sela menunggu HP ini aku seringkali di sambangin anak-anak penjaja makanan di ferry ini, kuperhatikan memang sebagian besar penjual nasi adalah anak-anak usia sekolah.  Tadinya ku pikir mereka tidak lagi bersekolah karena berkeliaran di jam-jam sekolah, tapi dugaanku salah, aku baru nyadar jika hari itu adalah tanggal merah, sehingga mereka memanfaatkan tuk membantu orang tua, walaupun dari mereka tak sedikit juga yang memang sudah benar-benar putus sekolah. Di sela mereka menyambangiku, sempat ku tanyakan hari ini kenapa tanggal merah, ada perayaan apa, mereka tak bisa menjawab hanya jawaban mereka adalah guru kami menyuruh kami untuk tidak datang ke sekolah, oiya…saya maklumi.  Ketika lagi ku tanya kalau hari kemarin tepat 1 Juni itu memperingati apa, mereka kompak menjawab hari kelahiran bangsa Indonesia.  Tapi aku tidak menyalahkan ketidaktahuan mereka, mungkin bagi anak-anak di Kota pertanyaan seperti tadi pertanyaan yang tidak susah untuk di jawab, tapi bagi mereka anak-anak yang berada di pesisir ini, yang harus berjalan kaki berkilo-kilo, pertanyaan tadi sungguhlah sukar. Ehm, beginilah potret Indonesia.  Beberapa saat di sela keasyikanku ngobrol dengan mereka aku baru nyadar kalo tujuan mereka sebenarnya kan berjualan, kenapa aku ajak ngobrol. Wah akhirnya sebagai penebus dosa, ku kasih saja mereka beberapa coklat yang memang sengaja ku beli sebagai teman selama perjalanan.
Pukul 11.15 Wita barulah ferry mulai benar-benar meninggalkan Pelabuhan Sape, Selama di Ferry ini beragam orang coba ku perhatikan, ku sempatkan berbincang dengan Pak Daniel, orang Ruteng.  Hal pertama yang dia tanyakan adalah aku seorang apa, muslim atau kristiani, apakah aku ke Labuhan bajo dalam rangka penelitian. Akh, agak malas sebenarnya menjawabnya, tapi demi menghormatinya aku jawab apa yang ia tanyakan.  Ku liat ada kelegaan tersendiri karena pak Daniel mengangguk seolah yakin tuk berbincang denganku. Banyak yang kami bincangkan, mulai dari dia menerangkan peta jalur laut ini,Gunung Seniang yang berada di tengah laut, juga pulau Komodo, berikut Ende lengkap dengan kisah pengasingan Bung Karno, nyambung sekali tema ini aku dapatkan di bulan Juni ini yang diperingati sebagai bulan Bung Karno, juga kisah-kisah mistis danau Kelimutu, danau tiga warna pembaca pertanda gonjang ganjing negeri ini.  Perbincangan kami tak tentu arah kadang kami membicarakan isu terkini, seperti isu Divestasi 7 % saham Newmount, terakhir aku coba perdengarkan musik dari Timur yang dulu sengaja ku minta dari koleksi seorang kawan yang saat ini berada di Ende.  Sangat beragam sekali bahasa daerah di NTT, sehingga bapak itu harus jeli mendengar lagu yang saya putarkan demi menjawab pertanyaan lagu tersebut berasal dari daerah mana.
Perjalanan sudah terlewati selama 6 jam,sekitar pukul 17.03 wita aku dan Rizal memutuskan untuk pindah tempat, sudah sore seperti ini paling asyik adalah menikmati view laut berikut gugusan ratusan pulau dari deck paling atas, akhirnya kami bawa Daypack kami menuju ke atas, dan benar saja ketika kami sampai, sudah banyak penumpang yang lebih dulu bersantai di atas, banyak bule yang juga menikmati pemandangan dari atas sini. Ku amati satu bule yang kelak akupun menjumpainya di Pulau Rinca, sedang duduk lesehan di ujung sana, dia asyik menulis buku harian entah apa yang dia tuliskan.  Kami nikmati bersama pemandangan ini sambil berbincang hal-hal yang tak begitu penting sampai-sampai tak terasa pelabuhan Bajo sudah mulai nampak, walau masih dari kejauhan.  Itu artinya kami sebentar lagi akan menginjakkan kaki di Pulau Flores.
Ku ceritakan sedikit mengenai Flores ini kawan, Menurut sejarah Pulau Flores ini berasal dari bahasa Portugis “ Copa de Flores “ yang artinya Tanjung Bunga.  Nama ini secara resmi dipakai sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Flores sendiri punya nama asli Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular.  Pulau ini memiliki luas sekitar 14.300 kilometer persegi dan merupakan bagian dari provinsi Nusa Tenggara Timur.  Pulau ini dibagi menjadi delapan kabupaten. Kabupaten Flores Timur yang beribu kota di Larantuka ada di ujung timur, sementara Kabupaten Manggarai Barat dengan ibu kota Labuan Bajo ada di ujung barat.
Sekitar pukul 19.25 Wita, Ferry benar-benar sudah berlabuh di Labuhan bajo,seperti tak ingin berlama-lama lagi kami langsung bergegas turun dari kapal menuju ke teman kami sekeluarga yang sedari tadi sudah menunggui.  Dan tibalah kami di pintu gerbang Labuhan Bajo, dan benar kawan kami mas lukman&keluarga sudah menunggu kami.  Malam ini kami tidak bermalam di Labuhan bajo, melainkan langsung menyeberang ke Pulau Rinca, Kawasan TN. Komodo.  Dan rupa-rupanya boat yang akan mengantar kami dan juga keluarga mas Lukman sudah disiapkan.  Sejujurnya saya agak takut harus menyeberang laut malam-malam, dengan Boat nelayan pula, bagaimana kalau tiba-tiba air naik dan menenggelamkan perahu boat itu, akh..semua pikiran itu segera ku minimalisir, minimal aku meyakini apa yang dikatakan bapak pemilik boat sambil dalam hati berdoa saja selamat sampai di Pulau Rinca.  Sepanjang perjalanan dengan boat ini sebenarnya saya sangat mengantuk, perjalanan dari Mataram-Bima-Labuhan bajo lumayan membuatku terasa kelelahan.  Setelah 2,5 jam berada dalam boat yang gelap tanpa cahaya serta dingin itu, sampailah kami di dermaga Loh Buaya, Pulau Rinca.  Waktu itu sudah menunjukkan pukul 21.35 Wita, setelah itu kami masuk ke kawasan pulau menuju ke tempat penginapan milik  Dephut.  Setelah sampai kami bersalaman dan berbincang sebentar dengan orang-orang yang berada disana.
 Berhubung sudah malam dan saya butuh istirahat, akhirnya sekitar jam sebelas malam, saya di antar ke rumah dimana disana aku akan beritirahat satu kamar dengan polhut perempuan.  Kuceritakan sedikit tentang perempuan ini, namanya Nayu, dia asli dari Soe, Kabupaten TTS , NTT.  Bagiku dia cukup berani ambil resiko dan menikmati pekerjaannya.  Dan kalau bisa ku bilang pilihan yang hebat lah, gimana enggak di pulau Rinca ini akses komunikasi masih terbatas via Radio komunikasi (HT), sinyal pun belum masuk, parahnya kalo mau mencari sinyal HP mesti menyeberang ke Pulau Kambing dan itu lumayan 45 menit an pakai perahu.  Salutlah, kita aja disini lupa bawa HP atau HP lowbat atau blank sinyal akan pusing setengah mati.
Nah beberapa info tentang komodo disini juga aku dapatkan darinya, Ada kurang lebih 1336 komodo di pulau Rinca ini. Ketajaman komodo mencium mangsa, dan kecepatannya menerkam mangsanya.  Wah, kubayangkan betul gimana kalau tiba-tiba ada komodo di bawah tempatku tidur ini dan tiba-tiba menerkam. Hufft…sampai kebawa mimpi akhirnya.  Ohya, memasuki pulau Rinca ini harus menggunakan boat, biasanya sistem carteran limit termurah adalah 500ribu, dan termahal ya puluhan juta, itu yang biasa di sewa para turis.  Sedangkan entrance fee ke pulau Rinca ini sebesar 40ribu, jasa guide sebesar 50ribu (belum termasuk tip guide), dan kamera 15ribu/unit.
Paginya, kami sudah bangun sejak pukul 05.30 Wita, aktivitas pagi kami lakukan dan sekitar pukul 06.25 Wita kami pergi menuju ke dapur untuk sarapan, wow..ternyata sudah ramai orang disana, jadi tidak enak.  Wah, udah di tunggu rupanya sama keluarga Mas Lukman, Rizal juga mas Patub.  Semalam aku belum bertemu dengan mas Patub, hahaha…long time no see brader, sekedar berjabat dan berbincang hal-hal yang lalu rupanya menjadi obat pelepas kangen.  Aktivitas pagi ini adalah bermain ke dermaga Loh Buaya Rinca, sambil berjemur dan melihat aktivitas dermaga di pagi hari.  Dermaga Loh Buaya ini satu-satunya pintu masuk menuju Pulau Rinca, disini beragam kapal dan perahu nangkring mulai dari Perahu boat milik nelayan, Kapal pesiar mini, Speed boat sampai-sampai Yacht juga ada.  Tapi sebenarnya ada alasan konyol juga kenapa kami pagi-pagi sudah pergi ke dermaga, berhembus gossip kalo akan datang kaka, ridho dan juga armand maulana, hohoho…kalau demi mereka maulah aku nunggguin. Cuma sampai siang yang ditunggu tak kunjung datang, berhembus kabar lagi kalau mereka saat ini menuju ke pulau Kanawa dan diving disana, baru akan mampir ke Pulau Rinca besok.  Wah, sudah pupus bisa ketemu Kaka, Ridho (Slank) tuk yang kedua kalinya. 
 Akhirnya pukul 11.06 Wita aku&Rizal memutuskan ikutan trekking rombongan mahakarya Indonesia.  Mereka beramai-ramai, hanya saja ketika trekking bareng mereka kurang memuaskan pasalnya hanya short trek.  Trekking di pulau ini di bagi dalam beberapa kategori diantaranya Short trek, medium trek dan juga long trek.  Kategori ini didasarkan pada waktu juga jarak.  Paling memuaskan adalah ketika bisa melakukan long trek yang lama perjalanannya sekitar 3 jam, pasalnya akan lebih banyak peluang bertemu binatang liar seperti komodo, kerbau liar, rusa, ular, elang, burung tekukur, monyet, dan yang lain.  Tapi sekali lagi itulah alam, tidak bisa menjanjikan suatu kepastian, bisa jadi jika beruntung kita akan bertemu dengan banyak binantang, tapi bisa juga jika kita sedang tak beruntung setelah jauh berjalan kita tidak menemukan satu binatang pun yang menampakkan diri.  Begitulah alam tak tertebak…
Pukul 15. 35 wita, sore ini kami di ajak untuk bermain menuju pulau Kambing, Awalnya banyak yang ingin ikut bermain ke pulau Kambing ini, hanya saja setelah semua naik ke perahu boat milik pak Dullah, auw..auw, boatnya miring. Itu artinya boat ini tak bisa menampung semua orang, so  ada yang harus ngalah untuk tidak ikutan menyeberang ke pulau Kambing, padahal yang saya tahu mereka semangat ke pulau Kambing karena di sana bisa mencari sinyal.  Akhirnya yang berangkat tinggal kami, tambah pak Bedo juga kakak Nayu tentunya dengan pak Dullah sebagai pemilik perahu.  Perjalanan yang selama 45 menit ini lebih berasa nikmat, manakala menyaksikan pemandangan indah di sepanjang pulau, dari kejauhan terlihat pulau kambing, pulau kalong, pulau mesya, pulau Nengah, juga kampong Rinca.  Begitu kami tiba di pulau Kambing, wah..indah sekali pantai berpasir putih, bening dan tak berombak. Kami langsung melakukan aktivitas sendiri-sendiri, ada yang menaiki bukit mencari sinyal termasuk aku, padahal HP dah low bat, tapi tak apalah minimal bisa memberi kabar ke keluarga.  Sedang Esa dan Elang bermain air mencari bintang laut, nah ini mas Lukman, mba Dudu asik berburu kremis (kerang), sedang pak Bedo juga di bantu Rizal, memunguti sampah yang berserak di pulau ini, kemungkinan sampah terbawa saat air pasang.  Selang bebrapa lama aku turun untuk menemani mba Dudu yang sedang asiik berburu kremis, kita belepotan pasir putih, karena mencari kremis ini kita harus kerahkan tangan kita untuk membolak-balik pasir dan kalau beruntung akan nemu kremis, cangkangnya berwarna putih.  Setelah puas kami berburu kremis, dan memang senja sudah mulai bergerak menuju ke malam, maka kami putuskan untuk kembali ke pulau Rinca, sebelum keduluan air naik maka kami harus bergegas melaju masih dengan menaiki perahu mesin pak Dullah.  Setibanya di pulau Rinca kami langsung bersih diri, dan dilanjutkan makan bersama kerang hasil buruan kami, walaupun masih belum sempurna dimasaknya.
Sabtu, 4 Juni 2011
Morning activity, bangun jam 06.00 pagi, rasanya enggan sekali bangun pagi ini, kecapekan luar biasa semalam menyerangku.  Tapi demi sebuah keinginan menyusuri pulau Rinca ini lebih jauh lagi, ya kami akan melakukan long trekking menuju ke wai waso.  Jadilah pagi-pagi kami (aku, Mas lukman, Mba Dudu, Si guide imut Esa dan Elang juga Rizal) mulai trekking, waktu ini kami ambil agar tidak terlalu panas dan berharap akan menemukan binantang liar yang juga jalan-jalan pagi seperti kami (hehehe). Setelah kami bersiap kami langsung berjalan menyusuri hutan di pulau ini, 15 menit pertama kami menemukan sarang komodo, rupanya dalam satu lokal komodo sengaja membuat  2 sarang sekaligus sarang betulan dan tidak betulan, ini yang  ada orang/hewan bisa terjebak di sarang itu dan akan di mangsa komodo.  Jadi sarang yang satu memang sarang untuk bertelur sedang satu lagi sarangnya merupakan sarang jebakan untuk mangsanya dan juga  sebagai sarang untuk mengelelabuhi musuhnya dan untuk bertahan hidup.
Perjalanan kami lanjutkan lagi, sepanjang perjalanan ini kami menemukan pohon lontar yang dililit oleh pohon beringin raksasa. Menurut informasi dulunya pohon lontar hidup lebih dulu, kemudian pohon beringin ini jauh lebih kecil dari pohon Lontar.  Pohon beringin ini menghisap pohon lontar lontar sampai mati.  Jadi pohon beringin ini pembunuh pohon lontar.  Penjelaskan ini aku dapatkan dari guide imut Elang, wah cerdas sekali dia.  Tentang lontar ini memang sudah dikenal sejak dulu bahkan jaman kerajaan dulu dimana sering menulis sesuatu di atas daun lontar, tapi bagi masyarakat timur lontar ini digunakan sebagai bahan pembuat gula, jadi jangan heran jika di sini tidak menemukan gula arena taupun gula kelapa karena memang mereka menggunakan gula yang terbuat dari lontar.  Sementara itu air lontar dijadikan minuman, yang kita biasa menyebutnya arak/tuak.  Masyarakat sini menyebutnya Sopie, sedangkan di Ruteng sana lebih dikenal dengan nama Smokee.  Tapi intinya satu kok : sama-sama memabukkan jika berlebihan.
Kemudian perjalanan kami lanjut lagi, kali ini kami menuruni bukit, dan dari sana kami melihat sekitar 4 kerbau liar, yang besar sekali. Ada yang sedang berjalan, ada yang sedang berendam dalam sungai, mungkin sama seperti kita mereka juga rutin melakukan aktivitas pagi.hehehe..lumayan lama kami mengamati kerbau liar ini sambil memperbincangkan bagaimana kuatnya komodo yang bahkan kerbau sebesar ini pun bisa ia mangsa dan menjadi menu pesta para kawanan komodo. Ah kerbau yang malang, kau tinggal menunggu waktu saja.
Perjalanan sampai juga di bukit panorama, dari sini sungguh indah karena bisa melihat lanskap pulau ini dan pemandangan pantai yang sungguh indah. Lama kami beristirahat disini, di sela-sela istirahat kami dari jarak yang  lumayan agak dekat tiba-tiba muncul kepala komodo, hohohoho, dia sedang mencari mangsa rupanya.  Seakan ada yang mengaba-aba kami langsung berdiri dan dengan terpaksa melewatkan panorama dari bukit ini.  Dan langsung tancap gas turun kembali menuju ke Loh Buaya dan tepat pukul 10.15 Wita kami tiba di Loh Buaya.  Perjalanan kali ini baru mengasikkan long trek yang cukup panjang namun banyak yang bisa kami saksikan. Dan sampai disini petualangan di pulau Rinca berakhir untuk selanjutnya kami bersiap untuk menyeberang kembali menuju ke Labuhan Bajo, Flores.   Dan untuk selanjutnya berburu oleh-oleh di  sana.
Begitulah aku ingin berbagi pengalaman, berbahagialah orang yang tidak pernah puas menjelajahi sisi bumi dalam hidupnya, karena dengan begitu mereka tidak akan pernah berhenti melangkah.  Bagi mereka yang mandeg, tak akan pernah mendapatkan apa-apa dalam hidupnya. Selesai*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar