Selasa, 04 Februari 2014

JUST SAY IT “LAH”


kelirkata_narnar@blogspot.com, Kenapa menulis tag line itu, ehm,,,karena itulah kata pertama yang saya temui saat beberapa waktu lalu berjalan (jalan) ke Malaysia-Singapura.  Kata itu saya baca saat berada di cabin pesawat yang membawa kami terbang selama 3 jam dari Lombok menuju KL.  Learn the Language like when to use “LAH” begitu pesan singkat tentang apa yang harus kamu lakukan saat berada di Malaysia.  Rupanya pesan dalam tulisan itu benar saya temui baik di Malaysia maupun Singapura.  Setiap orang selalu mengakhiri kalimat orbolan menggunakan kata “LAH”.  Menjadi menarik buat saya untuk juga ikut-ikutan menggunakan kata LAH dalam setiap percakapan seperti No Sweat LAH/ Common LAH / Also Can LAH / Wait LAH/Sit Down LAH/ Relax LAH/ Tak pe LAH/ Boleh LAH/dll.  Tak ada maksud apa-apa selain memang saya tidak cukup ide memberi judul tulisan ini.

Bagi saya gaya traveling tentu sesuatu yang personal dan subyektif, ada yang ingin bersenang-senang, tapi saya ingin belajar menikmati kesederhanaan, ingin berani mengambil risiko, dan saya yakinkan diri bahwa sebuah perjalanan traveling akan lebih berharga dan berarti jika semua orang yang kita temui dijalan kita jadikan sebagai guru kita.  Entah nantinya akan berguna atau malah hanya akan berakhir di tong sampah kertas kertas itu, namun bagi saya menulis pengalaman itu cukup menarik.  Traveling bisa jadi barometer seberapa besar nyali, kemampuan bertahan, dan seberapa kuat karakter kita sebenarnya.  Menulis catatan perjalanan ini membuat saya teringat akan sosok Profesor Haris Otto Kamil Tanzil (baca : Hok Tanzil), seorang keturunan Tionghoa yang lahir di Indonesia.  Sang Profesor bersama istri sudah berkeliling ke 240 negara dan selalu menulis setiap perjalanan keliling dunianya itu dalam sebuah diary traveller (Mari belajar menulis pengalaman perjalanan dari grandpa ini).

Mengawali menulis catatan perjalanan di Sani Bus Station, yang berada di daerah Klang Meru, sambil bengong pasang headset yang waktu itu saya memutar MP3 Telling Stories nya Tracy Chapman dari Ponsel, //There is a Fiction in the space between // The lines of page of your memories // write it down but it doesn’t mean // Your’re not just telling stories // There is a Fiction in the space between you and me // There is a Fiction in the space between you and reality //, entah kenapa suka sekali memutar ulang lagu itu.  

Sambil menunggu Bus yang akan membawa kami melintas dua negara, yah,, kami hendak ke Singapura setelah sore tadi pukul 18.30 kami tiba di Malaysia. Saya bersama kawan-kawan seperjalanan memutuskan untuk langsung pergi ke tempat terjauh terlebih dahulu, dan sudah pasti Singapura karena negara ini masuk dalam itinerary kami.  Pukul 23.00 Bus yang akan membawa kami ke Singapura sudah tiba dan kami pun bergegas masuk mencari tempat duduk kami, sangat lelah jadi secepatnya ingin tidur dalam bus. Bus melaju sampai tidak tau lagi saya melewati mana saja, yang saya tahu melewati Malaka hingga Johor Bahru sampailah kita di perbatasan Malaysia dengan Singapura itu artinya kita harus turun untuk menuju Kantor Imigrasi Bangunan Sultan Iskandar, Malaysia untuk meminta cap paspor kita karena akan keluar menuju Singapura, salah satu catatan apabila kita harus ke kantor Imigrasi ini usahakan bergerak cepat, karena Bus yang kita tumpangi hanya memberikan toleransi waktu 30 menit untuk kita mengurus paspor kita, belum lagi kondisi dalam loket antrian yang cukup panjang.  Beruntung kali ini kami mulus dan sampai Bus tepat waktu, sebenarnya tidak mulus juga karena saya sempat terlambat sebentar gara-gara ke Toliet, haduh kena omelan Bas Captain dech.  Saya Cuma bisa senyum simpul tanpa dosa saja, kawan saya justru yang khawatir saya di tinggal.  Akhirnya bus jalan lagi, tidak sampai 1 jam tiba-tiba kami dikejutkan lagi oleh Bus Captain meminta semua penumpang keluar karena harus ke Imigrasi (lagi), kali ini kami diminta membawa bag kami dan memastikan tidak ada yang tertinggal.  Di Imigrasi masuk Singapura ini niatnya kami tidak ingin berlama-lama karenanya kami berlari sekali pun dalam escalator menuju ke loket antrian.  Saat sudah berada di depan petugas Imigrasi, rupanya ada yang kami lewatkan, kami tidak tahu kalau harus mengisi semacam Form untuk pengunjung, alhasil kami harus kembali ke belakang untuk mengambil form dan mengisinya itu artinya kami harus mengulang antri kembali, saat itu jam 04.00 pagi sudah sangat ramai, dan kami pun harus sabar mengantri dengan pikiran was-was jangan-jangan Bus kami benar-benar sudah jalan.  Tidak cukup mulus kali ini, karena sempat kawan saya agak lama pemeriksaannya entah kenapa yang pasti ketika kita masuk ke Singapura sekalipun kita masih bingung akan menginap dimana ataukah tidak menginap sama sekali, kita tetap harus punya referensi tempat menginap.  Setidaknya ini untuk jaga-jaga bila nanti pihak petugas Imigrasi menanyakan kepada kita secara detil waktu berkunjung, tujuan berkunjung dan dimana akan tinggal.  Untungnya kawan saya sudah mencatat referensi hotel itu dalam ponselnya sehingga saat ditanyakan kami bisa menjelaskannya.  Pada akhirnya paspor kawan saya berhasil di cap walaupun dengan ini itu yang lumayan menyita waktu.  Selesai kami cap kan paspor kami berlari menuju parkir Bus yang tadinya kami naiki dan benar feeling kami, Bus sudah tidak nampak.  Tak perlu saya jelaskan lagi kenapa.  Kami terpaksa keluarkan uang lagi untuk menaiki Bus lain, 5 Dollar Singapura untuk sampai ke Singapura, padahal rupanya jaraknya tak cukup jauh hanya sekitar 45 menit, tapi ya mau gimana lagi untung saja Bus ini cukup nyaman.   

Pukul 05.25 pagi kami sudah sampai di Singapura dan diturunkan di Beach Road.  Masih cukup gelap, hanya saja kami tak ingin berlama menunggu kami stop Taksi dan meminta untuk mengantar kami ke Little India, supir ini meminta 7 Dollar, karena ketidaktahuan kami lokasi yang akan kami datangi, maka kami nurut saja dan rupanya hanya berjarak sangat dekat.  Sampai di Little India kami mampir ke Masjid Abdol Gafoor untuk beribadah.  Di Little India ini dihuni oleh mayoritas orang India, ya iyalah dari namanya saja sudah jelas.  Sepintas berjalan melewati Little India ini bangunan-bangunan yang ada cukup kuno, gak beda jauh dengan semacam Pecinan gitu, belum ada satupun Toko atau rumah buka karena memang hari masih cukup pagi.  Selesai kami berjalan di Little India, kami berniat ke Bugis Street, tempat kami akan membeli Kartu MRT guna memudahkan transportasi kami, dengan membayar 12 Dollar Singapura, kita sudah bisa membeli kartu dengan debit senilai 7 Dollar.  Dengan menggunakan kartu itu kita bisa mengakses kemanapun tempat yang dilalui jalur MRT, tak perlu bingung lagi atau tertipu tukang taksi lagi.  Yah walopun kalau di kurs kan kita akan berfikir mahal sich, tapi sepadan kok dengan kenyamanan saat kita mengakses transportasi massal itu, ber AC, ada penunjuk jalur yang memudahkan kita.  Namun sebelum sampai ke Bugis Street kami sempatkan jalan-jalan dan mampir ke Pasar pagi yang sepertinya Pasar China tapi cukup ramai maklum saja Imlek sudah sangat dekat.  Sesampai di Bugis Street pun, belum ada toko yang buka, Bugis Street ini terkenal sebagai Pasar yang harganya cukup terjangkau.  Sesampai kami di Stasiun MRT, tujuan kami adalah langsung City Tour dengan rute yang sudah kami buat sebelumnya yakni, City Hall, Rafless Statue, Merlion Park, dan Esplnade.  Rute itu sangat berdekatan sehingga kita begitu tiba di pemberhentian MRT kita langsung berjalan berkeliling ke rute yang sudah kami tentukan tadi.   

Kami sengaja mempercepat karena memang kami hanya mengagendakan 1 hari saja di Singapura tanpa menginap, karena kami memiliki tujuan yang lebih jauh lagi yakni ke Penang, Malaysia Utara.  Puas kami berkeliling, kami putuskan untuk naik MRT kembali menuju ke Orchard Road, mendengar Orchard Road tentunya yang terlintas adalah surganya para Sophaholic, bagaimana tidak sepanjang jalan isinya Mal semua dengan gerai-gerai Branded ternama seperti Louis Vitton, Prada, Bvlgari, dll.  Setibanya di Orcard Road kami langsung menuju ke Lucky Plaza karena kami sudah sangat lapar, dan di Lucky Plaza ini ada food court khusus Asian Food. Yah kalau hanya sekedar nyari nasi Padang, bakso atau Gado-Gado ada lah, namun jangan kaget juga jika saja harga Gado-Gado menjadi 6 Dollar yang itu artinya sekitar yah hampir 60 ribu lah, sedangkan untuk air mineral bisa kita beli seharga 2 Dollar.  Puas kami makan dan bersantai akhirnya kami berkeliling Mal dan hari sudah semakin siang, kami sangat lelah akhirnya duduk-duduk sambil menikmati Yogurt yang saat itu kenapa rasanya jadi enak banget ya.  Puas kami di Orchard Road, kami menaiki MRT kembali dan kali ini berniat ke Marina Bay Sands, untuk kemudian meneruskan perjalanan menuju ke Woodlands dan melanjutkan perjalanan ke Terminal Larkin untuk berganti Bus dengan tujuan Kuala Lumpur.  Saat itu kami sampai di terminal Larkin sudah pukul 16.05 sore dan kami sempatkan makan dan minum Milo (melulu!).  

               doc. Standing in front of Rafless Statue

Pukul 05.24 (terlambat 1 jam) waktu Malaysia tibalah kami di bas station (baca:terminal) Sungai Nibong, Penang.  Perjalanan ini kami tempuh sekitar 10 Jam dari terminal Larkin, Johor Bahru. Keterlambatan ini bermula dari Bus Star Express  yang akan kami naiki dengan membayar 38 RM terkena pemeriksaan oleh petugas SPAD,  petugas SPAD yang melakukan sidak terhadap semua calon penumpang dan terdapatlah 1 penumpang yang membeli tiket dengan tujuan Johor Bahru – Taiping seharag 156 RM, menurut petugas SPAD tarif ini terlalu mahal untuk tujuan tersebut, alhasil dipanggillah petugas agen tiket, yah seperti halnya calo mereka tidak mau mengakui kalau mereka menjual tiket sangat mahal, argumentasi mereka si empunya tiket membeli tiket PP, padahal setelah petugas SPAD mengkonfirmasi kepada penumpang dia tidak merasa membeli tiket PP, hanya sekali jalan saja.  Tidak berhenti memanggil petugas tiket counter, si pemilik agen pun turut lah dipanggil, sepanjang saya lihat bos ini cukup sangar memang rupanya, hitam tinggi ala ala India, dengan nada keras justru si pemilik tiket justru meminta si calon penumpang itu turun dan akan mengembalikan uang tiketnya, dengan sedikit ancaman kalau lah tidak turun maka Bis pun tak akan laju.  Saya yang kebetulan berada berseberangan dengan si pemilik tiket itu melihat sendiri rupa-rupa ketakutan dan hanya bengong dengan jawaban singkat tidak mau turun dan tetap akan ikut Bas ini, sepintas anak ini masih muda dan saya juga kurang paham letak kota Taiping itu dimana yang jelas rupa anak ini sepertinya Tionghoa.  Saya agak kasihan juga dengan intimidasi dari si pemilik agen tiket ini kepadanya, untung saja petugas SPAD yang ada balik memarahi si pemilik agen tiket dan memaksa dia untuk mengembalikan separuh harga tiket yang sudah terbayar.  Beruntung masalah ini tidak berlarut dan selesai, karena jika tidak kami penumpang lain lah yang sedikit rugi karena itu artinya kami akan terlambat.  Sekitar Pukul 19.25 Bis mulai laju dan sudah benar-benar meninggalkan Johor Bahru.  Johor bahru ini merupakan Daerah di Malaysia yang berbatasan dengan Negara Singapura, jadi bisa di bilang lebih dekat ke Singapura daripada ke Kuala Lumpur.  Tidak banyak yang saya tahu tentang daerah ini karena memang kami hanya melewatinya saja, namun yang pasti ku tahu letak Legoland dan Hello Kitty House ada di daerah ini, keduanya menjadi destinasi baru di Malaysia yang kelak katanya akan menyaingi Universal Studio, Singapura.  Sengaja kami tidak masukkan dalam list itenerary kami karena perjalanan kali ini kami ingin mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah, namun saya simpan list ini untuk kali lain saja.

Dalam perjalanan ini praktis kami manfaatkan untuk tidur, menjelang pukul dua belas malam samar-samar terdengar orang berteriak lah sampai lah “KL sentral station”, saya terbangun dan yah ternyata benar kita sudah sampai di Kuala Lumpur dan langsung teringat kawan Backpacker kami Riri dan Ammah dari Padang yang harus turun di tempat ini, kami berpisah setelah sebelumnya kami sama-sama menapaki Negara Singapura karena mereka tidak cukup waktu jika harus mengikuti kami ke Penang. 

Bis berjalan kembali menuju terminal Puduraya, masih di Kuala Lumpur. Lumayan lama Bus berhenti, saya pun bukan kepalang kedinginannya maklum saja tidak cukup terbiasa dengan mesin pendingin ruangan, sampai sekitar setengah jam rupanya kami diminta untuk menuju Bus lain . Kami membayar senilai 39 RM untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Penang. Disini transfer penumpang itu hal yang biasa juga ternyata hanya saja antar Bus sudah memastikan betul ketersediaan tempat duduk sehingga penumpang yang akan memasuki Bus pengganti pun sudah pasti kebagian tempat duduk Hmmm,, cukup berbeda yah dengan di Negara kita, oper penumpang istilah yang lebih sering kita dengar, terkesan menjadi momok bagi penumpang maklum saja terkadang Bis pengganti tidak memiliki kapasitas untuk menampung  sehingga penumpang terpaksa berdiri, syukur-syukur sampai setengah perjalanan ada penumpang turun bisa lah kita duduk, nah parahnya kalau ternyata tidak ada yang turun, mati lah kita berdiri sampai tempat tujuan.  Akh, membicarakan transportasi umum ini saya yakin semua orang pernah mengalami lah bagaimana tidak nyamannya transportasi di negara kita, bisa panjang nih kalau saya ceritakan, maklum saja semasa kuliah dulu saya cukup sering memakai transportasi umum antar kota dan begitulah kira-kira pengalaman saya (sedikit curhat jadinya).  Pukul 00. 45 Bis baru yang kami naiki melaju cepat menuju ke Penang dan lagii kami tidur pulas sampai tiba di Terminal Sungai Nibong, Penang.  Kawan saya berusaha mengontak kenalannya yang bekerja di Penang, dan benar saja kami disuruh menunggu untuk di jemput. Ada sekitar 30 menit, mobil kawan yang menjemput kami sudah datang dan langsung membawa kami ke flat dengan terlebih dahulu mampir membeli sarapan, lokasi flat setinggi 18 lantai ini  banyak di sewa dan ditempati oleh para pekerja maupun rumah tangga, saya lupa menanyakan berapa biaya sewa setiap bulan ataupun tahunnya, yang pasti di flat ini pun cukup ketat karena di pintu masuk bawah ada penjaga, menggunakan lift kami menuju ke lantai 11 tempat kawan saya. Kalau saya tidak salah flat ini berlokasi di daerah Bukit Jambul, Penang. Ada banyak sekali bangunan-bangunan menjulang serupa dilokasi ini, kawan saya bilang memang di kawasan ini merupakan kawasan pekerja jadi jangan heran kalo pagi ini pun kami sarapan lontong sayur, karena memang banyak juga orang Indon (baca: Indonesia) yang menempati flat-flat di sekitar ini.  Sesampai di kamar kawan kami langsung beraktivitas mandi, sarapan sebentar ngobrol walopun kami sudah cukup di buat jetlag selama 12 Jam menempuh ratusan Kilometer dari Singapura, tak ada niat kami untuk beristirahat karena kami memang harus melanjutkan perjalanan menuju ke destinasi yang kami rancang dan tepat pukul 09.10 kami sudah berada di mobil yang akan mengantar kami menuju ke Bukit Bendera (Penang Hill).
  
Penang Hill, 1923
Tidak sampai 35 menit kami sudah tiba di area Bukit Bendera, masih dibilang pagi lah saya rasa, kabut juga masih cukup tebal.  Namun untuk menghemat waktu kami langsung menuju counter tiket train, yang akan mengantar kami naik menuju ke bukit bendera.  Awalnya kami pikir kami bisa mendapatkan tiket dengan harga seperti wisatawan domestik yakni 8 RM, namun rupanya kami harus bisa menunjukkan IC sebagai warga Malaysia, namun berhubung kami tidak bisa terpaksalah kami menunjukkan Paspor kami dan benar saja harganya menjadi 30 RM untuk wisatawan asing.  Sebenarnya sih bukan hal baru perlakuan tarif seperti ini, pengalaman saya waktu mengantar kawan dari Korea Selatan mengunjungi Candi Borobudur tahun 2007 lalu, memaksa kami menggunakan trik untuk mengecoh petugas tiket, yah kami me make over kawan kami dari Korsel itu dengan Jilbab, praktis aman dia membayar seharga tiket lokal, mengingat hal itu agak konyol juga sebenarnya, namun saat itu saya hanya berniat baik saja, tapi kok ya bohong juga padahal kan kalau si teman itu membayar seharga tiket wisatawan asing toh uangnya juga buat pengembangan wisata negara kita juga kan (akh, rupanya nasionalismeku masih semu, hehe).   

Akhirnya tiket train sudah kami dapatkan, kami bersiap menuju ke pintu masuk kereta, dan sembari menunggu train datang kami bisa dengan leluasa memperhatikan jalur rel kereta menanjak ke puncak bukit, dan Ohmaigosh, jalurnya cukup panjang ada sekitaran 3 Km mungkin, dan yang parah tingkat kemiringan relnya ini ngeri banget.  Tapi yah, ini tentunya akan menjadi pengalaman pertama saya, setelah sebelumnya tiap dengar kata “Bukit” ya bayangan kami adalah hiking untuk menapakinya sampai puncak, tapi ini oh sungguh mudahnya menuju puncak, praktis dan hemat tenaga, patutlah kita berterimakasih pada Inggris yang sudah membangunnya di tahun 1923, dan masih bisa kita nikmati detik ini tentunya saya yakin perkembangan jaman ke jaman kereta ini berbeda dan mengalami pembaruan. And then, The Journey begin Train mulai melaju naik, sudah dag dig dug saja kami dibuatnya, tak lupa saya abadikan rekam jalur rel yang ada di depan kami, karena kebetulan kami mendapatkan gerbong terdepan jadi leluasa berdiri memvideokan jalur rel kereta yang cukup sangar itu, di atas harus pula memasuki lorong gelap, wuiih,,, lumayan 10 menit yang mendebarkan sampailah kita di pemberhentian Train.  Semua penumpang turun dan melanjutkan berjalan kaki di sekeliling bukit ini, disediakan teropong bidik untuk bisa melihat lanskap Kota Penang dari ketinggian, hanya dengan memasukkan uang 1RM, namun keberuntungan sedang tak berpihak pasalnya masih kabut percuma saja kita membidik kota.  Kami kembali berjalan menuju ke atas, terdapat The Owl Museum dan mengambil beberapa gambar peninggalan yang ada.  Kami masih penasaran menuju ke bukit lebih atas, hanya saja kaki lumayan lelah kalo harus berjalan lagi (padahal biasanya memanjat ke Gunung aja gak pernah ngeluh nar?), akhirnya kami putuskan menyewa Hill Buggy Service, untuk berkeliling bukit dan melihat peninggalan yang ada dengan membayar 30 RM, hal yang menarik dari bukit ini terdapat villa-villa milik pribadi yang berada di lokasi wisata, rumah tinggalpun juga ada baik orang China maupun India juga menempati rumah-rumah yanga ada, rupanya dulu tempat ini diperjualbelikan, Southview merupakan rumah peranginan kakitangan majelis perbandaran pulau Pinang, ada juga Monkey cup sebenarnya kami ingin lebih menaiki bukit ini namun kata sopir Buggy Servicenya katanya tidak dibolehkan karena di atas ada kamp tentara dari Angakatan Udara yang sedang memantau radar, terpaksa kami sudahi petualangan dan kembali turun.  Sesampai di bawah kami melihat-lihat Kuil Hindu dan melihat toko yang menjual jasa menggambar dengan inai, khas Arab, India gitu. Awalnya pengen mengabadikan moment traveling ini dengan menggambar Tato Inai di tangan bertemakan Barcode jadi cuman semacam garis-garis dan mencantumkan tanggal kadaluwarsa jalan-jalan ini, tapi saya urungkan  berhubung harganya tidak wajar 30 RM.  Pukul 12.30 kami putuskan untuk meninggalkan Penang Hill karena harus melanjutkan perjalanan ke Kek Lok Si Temple.

Kek Lok Si Temple,
Perjalanan menuju Kek Lok Si Temple, jika di tempuh dari Bukit bendera hanya sekitar 20 menit, kami menggunakan Bus dengan membayar 2 RM. Pengemudi Bus di Penang ini disebut “Bas Kapten” (Tuh buat yang ngakunya Prajurit, jangan sok lah di Penang aja Sopir Bus jabatannya Kapten Lhoh).  Dalam perjalanan ini saya banyak melihat pasar rakyat yang bisa dibilang mayoritas China, sangat ramai pasar siang itu apalagi jelang Imlek dan bagi saya selalu menarik menikmati hiruk pikuknya.  Sekitar Pukul 12.50 agaknya kami kelewatan jalan menuju ke Kek Lok Si Temple, alhasil kami harus kembali berjalan kaki menuju pintu masuk temple yang berada di dalam lumayan juga ternyata.  Kami langsung berjalan-jalan melihat sekeliling kuil, lumayan juga menanjaknya sampailah saya di pintu masuk Pagoda, harus membayar 2 RM untuk bisa mengakses Pagoda, saran saya masuk saja kalaupun kita tidak sreg karena bertentangan dengan keyakinan kita, tapi percayalah ini peninggalan sejarah yang tidak ada hubungannya dengan keyakinan sama sekali. Apalagi kuil ini pun juga semarak menyambut Tahun baru Imlek, jadi sangat meriah sekali suasana kuilnya. Saya jadi merasa beruntung berkunjung di saat menjelang tahun baru Imlek.  Puas kami di Kek Lok Si Temple, kami bergegas untuk keluar untuk melanjutkan petualangan saya, kali ini kami mau menjelalah Goerge Town.


                 Jalan jalan tidak ada hubungannya dengan tidak cinta tanah air

Berburu Mural dan Unique Wrought-Iron Caricatures di  George Town
Berdasarkan info George Town telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia dengan kotanya yang memiliki nilai budaya terkemuka pada 7 Juli 2008.  Penghargaan ini menunjukkan bahwa Penang memiliki bangunan yang unik dan bersejarah, juga warisan budaya yang multi etnik dan kota kolonial yang sudah cukup tua. 
George Town memiliki destinasi unik yakni Street art telah menjadi bagian dari destinasi wisata yang dikemas secara apik, selain juga di seputaran George Town ini kita akan menemukan Karikatur unik yang terbuat dari baja besi dengan tema tulisan dengan gaya anekdot yang menggambarkan tentang jalan dimana karikatur itu di pasang.  Saya cukup penasaran karnanya Penang lebih khususnya George Town kami tulis dalam to do list jalan-jalan kami.  Namun untuk menemukan lokasi ini saya cukup dibuat bingung, karena bayangkan saja ada sekitar 18 titik mural dan 52 Karikatur Besi baja tersebar di jalan-jalan seputaran George Town. Namun saya dan kawan coba yakinkan diri dan kuatkan kaki untuk benar-benar jalan berburu, Awalnya kami cukup klesulitan menemukan, namun ketika kami sampai di Lebuh Armenian (baca:jalan Armenian) satu persatu gambar mural mulai ketemu, dan benar saja di seputaran lebuh Armenian, lebuh Chulla, lebuh Ah Quee, Lebuh Cannon.  Sedangkan Karikatur yang berjumlah sekitar 52 an itupun juga tersebar di seputaran jalan di Kota George Town (maaf kalo saya sebutkan jalannya terlalu banyak)  Intinya dibutuhkan kaki yang kuat untuk keep walking berburu mural dan karikatur di George Town ini, tapi percayalah setelah kamu menemukannya satu persatu kamu akan merasa telah menemukan sesuatu yang sangat berharga.  Ada Mural tema Kids on Bicycle, Old Motorcycle, Boy on Chair, Skippy, Bruce Lee, magic dan banyak lagi That’s it !!!
Doc. Little Children on a Bicycle

                                                    Doc. Old Motorcycle


                                                           Doc. Bruce Lee

Hari beranjak sore dan waktu memaksa saya dan kawan mengakhiri petualangan di George Town, Penang karena malam ini tepatnya pukul 00.00 kami harus kembali lagi menempuh perjalanan panjang ke Kuala Lumpur.  Malam di George Town kami nikmati di Queensbay sambil menunggu jadwal keberangkatan Bus kami, di area Queensbay kami sempatkan makan malam di Queensbay Mal dan setelahnya kami menikmati indahnya jembatan Penang (Penang Bridge) dengan lampu lampunya, jembatan ini menghubungkan George Town dan Kota Buttersworth.  Jika saja kami tinggal lebih lama pasti kami akan menyeberang ke Buttersworth, karena berdasar info yang kami dapat lama penyeberangan hanya 15 menit menggunaan Feri, Tarifnya pun hanya membayar sekali saja artinya pergi bayar pulang gratis.  Di Buttersworth sendiri juga banyak destinasi wisata selain kadang wisatawan menyempatan makan sambil menikmati pemandangan yang super aduhai.  Sayang destinasi ini harus kami lewatkan, sebagai gantinya kami hanya menikmati kerlap kerlip lampu kota Buttersworth dari Queensbay.  Malam semakin beranjak menuju ke pukul 00.00 itu artinya kami harus bersiap menuju ke terminal Sungai Nibong.  Sesampai di terminal masih pukul 23.25 kami pergunakan untuk memastikan tiket yang sudah kami beli seharga 38 RM dan menunggu kedatangan Bus yang akan membawa kami ke Kuala Lumpur tepatnya ke Puduraya Station.  Pukul 00.25 Bus benar-benar meninggalkan Penang, perjalanan selama 5 jam pun kami gunakan untuk istirahat.  Pukul 05.35 Kami telah sampai di Puduraya, artinya kami sudah di Kuala Lumpur lagi.  Masih sangat gelap namun geliat aktivitas warganya sudah mulai ramai, kami manfaatkan waktu sebentar untuk istirahat dan tentunya cuci muka.  Pagi ini kami akan langsung memanfaatkan wkatu setengah hari untuk agenda City Tour dan kami sepakat mengawalinya dari mengunjungi Menara Petronas (Twin Tower),  dari Puduraya Station ini kita bisa langsung menggunakan MRT, LRT maupun Bas.  Saran saya jika ingin tinggal dalam waktu lama mending membeli kartu Rapid seharga 12 RM dengan isi sebanyak 10 RM, dengan memiliki kartu itu kita bisa menggunakan transportasi umum MRT, LRT maupun Bas, namun jika hanya sebentar saja kita bisa langsung membeli tiket sekali jalan saja dengan cara yang sangat mudah.  Namun kami putuskan untuk membeli dengan alasan tidak setiap saat kami punya cadangan koin untuk bisa membeli token ke mesin-mesin tiket.  Yah walopun tidak cukup banyak kami pakai, setidaknya bisa kita bawa pulang dan jadi kenang-kenangan (hehe).  Kenapa tidak banyak terpakai, karena untuk mengakses destinasi di seputar Kota Kuala Lumpur kita bisa memanfaatkan Free Bas khusus wisatawan untuk agenda City Tour.  Jalur Bas City Tour ini ada dua yakni Green line dan juga Purple Line dengan rute yang sudah ditentukan, tapi tidak perlu khawatir karena kita pun bisa berganti jalur dari Bas Hijau ke Bas Ungu, karena ada titik temu pemberhentian dimana kita bisa bertukar rute (ehm, cukup membantu lah).  Selain itu ada juga KL Hop On Hop Off City Tour, Bentuk Bas ini bertingkat dua dengan bagian atas berupa dek terbuka.  Hanya saja jika kita menggunakan Bas ini berbayar sebesar 120 RM, kelebihan dari Bas ini adalah selain fasilitas City Tour juga wisatawan akan diajak menikmati suguhan atraksi di sekitar Kuala Lumpur City Gallery, Federal Territory Mosque, Batu Caves, menikmati rasa sate Malasysia, melihat pemandangan di Ulu Hangat dan Shopping di China Town.  Rute kami kali ini adalah Twin Tower, Matic, KL Tower, Petaling Street, Central Market dan Art Market.  Di KL Tower pun kita cukup dimudahkan pasalnya ada shuttle gratis yang mengantarkan kami menuju pintu masuk menara.  Setiba di KL Tower biasanya ada pemandu yang menawarkan kepada kita apakah kita mau menaiki KL Tower atau tidak, saya putuskan untuk tidak menaikinya karena tariff tiketnya lumayan mahal 80 RM, jadilah kami hanya keliling saja, di KL Tower ini pun terdapat lokasi-lokasi yang bisa di kunjungi seperti Cultural Village dimana terdapat beberapa rumah adat Negara Malaysia, KL Tower Animal Zone, dan lainnya.  Puas kami berjalan-jalan di KL Tower, kami pun turun tentunya dengan Shuttle gratis seperti pada saat kami naik.  Selama berada di Shutlle ini kami bertemu dengan beberapa wisatawan, dari Boston, USA dan Korea Selatan.  Kami sempatkan untuk ngobrol dengan mereka, dan alhasil kami pun sepakat bergabung untuk meneruskan City Tour bersama menggunakan Free Bas.  Begitulah kalau sesama orang yang sedang berada di Negara orang, saya rasa secara tidak menyengaja kami membentuk sebuah Crowd yang didasarkan atas kepentingan yang sama namun setelah tujuan selesai ya crowd ini pun bubar dengan sendirinya tanpa ikatan apapun.
Siang berlalu kami pun sudahi City Tour ini dan melakukan perjalanan menuju tempat inap kami, kami menginap di rumah sodara kawan saya, lumayanlah mengurangi budget untuk menyewa penginapan.  Pukul 14.50 pun kami telah sampai di Klang, daerah tempat sodara kawan saya itu tinggal.  Saya ceritakan sedikit mengenai daerah Klang ini, saya rasa daerah ini ditempati oleh mayoritas orang Indonesia, walopun tak pasti juga sih anggapan saya ini namun secara fakta saya banyak sekali berjumpa dengan orang Indonesia, maklum saja daerah ini dekat dengan Pelabuhan dan terdapat banyak sekali Pabrik yang tentunya banyak mempekerjakan tenaga kerja dari Indonesia.  Sore ini kami manfaatkan waktu untuk istirahat setelah tiga malam sebelumnya praktis tempat tidur kami adalah kursi Bus.  Sedangkan malamnya saya sangat antusias saat diajak untuk berjalan-jalan ke Pasar Malam, Pasar malam selalu memiliki keunikan tersendiri buat saya, selain barang maupun jajanan dari berbagai etnis, tentunya proses tawar menawarnya pun jadi berbeda bahasa juga. Cukup menarik untuk menghabiskan malam sebelum kami beristirahat menyiapkan tenaga untuk berkunjung ke Genting Highlands esok pagi.


                                          Doc. Twin Tower

Genting Highlands : Feel like in Macau
Pagi benar kami sudah bangun pagi dan segera bersiap untuk perjalanan ke Genting Highlands, akan memakan waktu sekitar 2,5 jam untuk bisa mencapai Genting Highlands tentunya kondisional juga tergantung transportasi yang nantinya akan kami gunakan.  Tepat pukul 09.05 kami berangkat menuju Puduraya Station untuk mencari Bus yang akan membawa kami menuju ke Genting highlands.  Kami pun setibanya di Puduraya langsung menuju ke Loket khusus untuk membeli tiket ke Genting highlands, dengan membayar 20.60 RM kita sudah mendapatkan tiket Bus pulang pergi berikut tiket menaiki Cable Car.  Saat kita ditanya akan membeli tiket PP maka waktu kepulangan harus kita pertimbangkan, pasalnya karena ketidaktahuan medan kami salah memanaj waktu. Kami putuskan untuk memilih jadwal kepulangan pukul 16.00, namun rupanya pukul 14.20 kami sudah selesai berkeliling.  Lama perjalanan dari Puduraya sekitar 1 jam, dan setibanya di Genting highlands kita langsung dapat menaiki Cable Car tanpa harus banyak mengantri, perjalanan menuju ke puncak ini berjarak sekitar 3,5 Km an dengan pemandangan pepohonan yang indah serta udara yang sangat sejuk, mungkin seperti di Puncak Bogor.  Hanya saja menaiki Cable Car ini menjadi pengalaman pertama karenanya agak takut di awal perjalanan, yang saya bayangkan ketika menaiki ini adalah akan mengalami kejadian-kejadian seperti di film-film Final Destination, entah Relnya lepas, Kabelnya putus atau tiba-tiba berhenti pas di tengah-tengah, Huffft,,,,agak ngaco juga pikiran saya, tapi percaya saja pada alat dan takdir tentunya, hehehe.  Setelah kurang lebih sekitar 15 menit kami berada di Cable Car, kami sampai di puncak dan langsung dihubungkan dengan sebuah Resort yang super duper mewah, itulah Resort World.  Ada Mal, ada Wahana Permaiann First World dan yang paling seru ada Casinonya, Casino De Genting.  Ehm, Pengalaman seru adalah saat saya memaksa kawan saya yang yah saya sebenarnya hormati dia karena berkostum Islami namun rupanya dia pun juga tertantang untuk sekedar masuk melihat permainan dan tentunya orang-orang yang mencari keberuntungan di dalamnya.  Setelah sedikit memaksa akhirnya kawan mau ikut masuk, tapi rupanya tidak cukup mulus rencana kami untuk bisa leluasa memasuki Casino De Genting ini, pasalnya waktu melewati pintu masuk kami dihadang oleh Security, Cewek sich tapi garang juga rupanya, Manis ala-ala India gitu. Kami dicek ini itu dan diminta untuk menitipkan tas berikut isinya di dalam sebuah loker khusus, yang saya ingat kata-katanya adalah No Camera, No Bag, dll.  Kami patuhi saja permintaan security itu karena pada dasarnya kami tidak ingin aneh-aneh hanya ingin melihat saja.  Akhirnya lolos juga kami bisa masuk ke Casino, wah kaget dibuatnya karena lokasi Casino ini cukup apik, rapi dan sangat rame tiap orang asik bermain dan mencari peruntungan.  Didalamnya pun sudah disediakan mesin-mesin ATM.  Mayoritas yang kami lihat bermain di Casino ini adalah Keturunan Tiong Hoa, dan mereka sangat mahir sekali bermain.  Kami lihat betul bagaimana mereka main, penuh stratgei dan perhitungan matang, banyak dari mereka menang.  Namun konon katanya banyak juga orang-orang yang frustasi karena kalah telak dan malu untuk kembali pulang akhirnya Suicide di Genting.  Wah merinding juga dengernya, apalagi seorang kawan kami yang tinggal di Malaysia pernah bergurau kalau Genting menjadi pusat Jin nya Malaysia. Ehm, pantas saja kami tadi sempat tertarik untuk juga ikut-ikutan mencoba peruntungan, hehe namun karena kami tidak ada uang yah,,, selesai lah dan gak jadi kesambet jin Genting. Berada di Casino de Genting ini jadi membayangkan Macau ataupun Vegas, pasti disana lebih WOW lagi ya.  

Pukul 13.30 kami sudah turun kembali menggunakan Cable Car, setibanya di bawah kami sempatkan membeli oleh-oleh dan berkeliling sambil menunggu jadwal keberangkatan kami yang masih cukup lama sekitar pukul 16.00.  Namun kami sempatkan juga menanyakan ke tiket Counter apakah memungkinkan kami majukan jadwal, dan penjelasannya dibolehkan masuk ke Bus jika memungkinkan ada kursi kosong.  Akhirnya kami menunggu di Bus Station dan berharap akan bisa pulang menggunakan Bus lebih awal, hanya saja selalu penuh.  Lumayan membosankan juga menunggu waktu kepulangan sekitar 1 jam lebih akhirnya saya berjalan-jalan yang tentunya melihat kanan-kiri mana tau ada obyek yang menarik untuk diabadikan (hahaha, selfie syndromne), tapi ya ga sia-sia karena nemu juga food truck merah yang bertingkat, dengan nama Café London, bagus juga rupanya.  Lapar melanda dan saya pun mencari café beneran sambil menunggu Bus datang, bener sih ke rumah makan tapi saya cukup sanggup beli Noodle Cup, itu saja sudah mahal bo! Maklum destinasi ini berada di ketinggian jadinya makanan serba mahal, tapi lumayan lah bisa menghangatkan badan segelas mie ini.  Akhirnya pukul 15.30 Bus kami datang dan kami pun bergegas masuk untuk pulang menuju ke Kuala Lumpur.  Setibanya kami di Kuala Lumpur kami sempatkan mampir lagi ke Petaling Street untuk mencari cinderamata, dan setelahnya baru kembali ke Klang.  Malam nanti kami masih menyisakan satu destinasi wajib kunjung sebelum besok pagi pukul 04.00 kami kembali ke Indonesia.  Ya destnasi ini adalah I-City, ataupun sering di kenal Forest City, yang berada di Syah Alam, jika ditempuh dari Klang tidak terlalu jauh, namun jika ditempuh dari Kuala Lumpur akan memakan waktu perjalanan 1 jam.  Berdasarkan referensi yang kami baca I-City ini sebenarnya kawasan mal, namun terdapat wisata outdoornya berupa Pohon Lampu dan Wahana Permainan, dan tempat ini baru akan indah ketika kita kunjungi malam hari, karena semua serba lampu warna warni.  Konsepnya cukup bagus dan lagi gratis pula amsuk ke I-City ini.  Sewaktu berada disana saya sempatkan merekam dengan HP saya bagaimana sparklingnya I-City ini. Setelah puas kami menikmati I-City, kami ditawarkan teman kami dari Malaysia, kata dia ada Pasar Malam yang menjual barang-barang bagus baik second maupun baru, ehm, sebenarnya dari awal ini nih yang saya cari, setidaknya walopun cuma sekedar melihat-lihat atau barangkali nantinya saya akan membeli sesuatu tapi setidaknya saya exicted.  Akhirnya benar kami sepakat menuju ke lokasi itu, saat sebenarnya kami sudah sampai di lokasi bukan main ramenya sampai parker mobil sudah tidak ada lagi, niat teman saya adalah hendak memutar balik sambil mencari lokasi parkir namun ditengah perjalanan kami temui kemacetan, awalnya kami kira kecelakaan namun ternyata razia polisi, oooo…We’re on Trouble nich!.  Mobil yang kami naiki rupanya masuk kedalam mobil yang di stop oleh Polisi, saat itu juga saya coba yakinkan ke teman apakah surat-surat kendaraan lengkap, aman kata dia. Nah rupanya satu yang gak aman, kawan saya lupa tidak membawa Paspornya.  Alhasil kami di investigasi sana sini, terutama kawan kami yang tidak bisa menunjukkan identitas, namun setelah panjang lebar akhirnya diijinkan juga kami jalan.  Rupanya kawan saya sudah terlalu capek dan shock juga dengan apa yang baru saja terjadi, akhirnya kami pun putuskan untuk pulang saja dan kami gagal untuk mengunjungi pasar malam itu.  Maklum saja malam juga sudah larut, apalagi esok pagi kami harus bangun pukul 04.00 untuk berangkat menuju bandara KLIA.  Petualangan berakhir dengan tidak mulus namun bagi saya sangat berkesan.(nar)

                                                                 Doc. Forest City


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar