Berangkat dari kegelisahanku untuk membuktikan kebenaran adanya sebuah tempat pesanggrahan dari Mahamantrimukya Rakrian Ma Patih Pu Mada yang sering kita kenal sebagai Gajah Mada bernama Madakaripura. Di sebuah desa kecil bernama Lumbang, berada di kabupaten Probolinggo yang menempuh jarak sekitar 30 menit dari Gunung Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Madakaripura menjadi tempat Gajah Mada menghabiskan masa tuanya setelah dirinya dinyatakan lengser akibat pertumpahan darah di lapangan Bubat (terkenal dengan Perang bubat) dimana Gajah Mada di sebut-sebut sebagai pihak yang dipersalahkan.
Untuk melihat dan membuktikan rasa penasaran itulah aku dan beberapa kawan melakukan trekking menuju ke sana. Akhirnya dengan segenap pertanyaan yang terangkai di benak kami, kami putuskan untuk malam itu juga berangkat. Berdelapan kami berangkat Mbak Ana, Agus, Alvi, Maya, Dudung, Jamal, Dimas dan tentunya aku sendiri.
Sabtu, 14 Februari 2009
Pukul 23.00 Wib, Perjalanan awal kami lakukan dari Start Point kami yakni Surabaya menuju Kabupaten Probolinggo untuk mendaki target point kami yang pertama yaitu Gunung Bromo. Untuk menuju ke Kabupaten Probolinggo itu sendiri memakan waktu selama 4 jam, perjalanan yang cukup menanjak dan kiri kanan jurang itu kami lalui. Semakin jalanan menanjak hawa dingin mulai kami rasakan bahkan halimun pun semakin tebal sampai-sampai menghalangi jarak pandang kami malam itu.
Pukul 04.00 Dini hari, sampailah kami di Pos awal Gunung Bromo tepatnya di Pos TNBTS, sektor Bromo. Tak perlu lama kami berpikir akhirnya kami turun dari kendaraan kami dan hal pertama yang kami lakukan adalah beristirahat disebuah warung kecil untuk sekedar menyeruput kopi hitam demi menghilangkan rasa dingin yang menusuk tulang-belulang kami.
Bagiku perjalanan trekking ke Gunung Bromo ini merupakan pengalamanku yang kedua setelah sebelumnya 6 tahun yang lalu tepatnya bulan Juli 2002, aku bersama kawan-kawan Komunitas Sosiologi Fisip Unsoed melakukan Analisis Sosial Perubahan Sosial di Masyarakat Suku Tengger, yang bermukim di lereng Gunung Bromo. Saat itu kami pun menyempatkan melakukan perjalanan trekking ke Gunung Bromo. Bagiku ada dua hal yang berbeda dalam pengalaman trekkingku ini, dulu kami sangat merasakan dingin yang teramat sangat sampai-sampai suhu mencapai minus 18 derajad celcius. Yang kuingat saat itu banyak di antara kawan kami tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan sampai ke Puncak Gunung Bromo. Beberapa kawan ada yang mengalami sesak nafas (asma), kram otot juga hipotermia. Namun saat ini ketika ku lakukan lagi pendakian ini justru tak kurasakan sedikit pun dingin, bahkan aku sendiri nyaris tidak menggunakan safety equipment yang hal itu sering aku lakukan saat harus mendaki gunung. Entah ingin Menantang dingin ataukah efek global warming mulai terasa.
Pukul 04.30 Wib / Pagi hari. Setelah istirahat kami rasa cukup, maka kami bertekad untuk mulai melakukan pendakian ke Gunung Bromo.
Perjalanan kami memakan waktu 1,5 jam untuk mencapai puncak Gunung Bromo, maka pada pukul 06.00 Wib pagi hari sampailah kami di target point kami yang pertama yakni Puncak gunung Bromo. Pemandangan alam dari puncak Bromo ini sangat eksotis, lanskap Gunung yang mengelilinginya pun tampak sangat terlihat jelas. Rasanya kami sangat ingin berlama-lama di puncaknya, hanya saja bau belerang yang bersumber dari kaldera Bromo ini begitu menyengat dan membuat kami tidak betah untuk berlama-lama di puncaknya, apalagi ada kawan kami yang mengalami sesak nafas. Akhirnya kami putuskan untuk segera turun tentunya setelah kami menyempatkan untuk berfoto-foto di puncaknya.
Pukul. 08.00 Pagi hari, sampailah kami di titik awal kami. Cukup ringan kurasa perjalanan trekking kali ini, tidak tampak ada kelelahan di antara kami. Bagiku pribadi, justru target point kami selanjutnya yang akan sangat menantang karena aku sama sekali belum tau medan yang nantinya akan kami lalui.
Pukul. 09.30 Wib, setelah satu jam kami istirahat kami bersepakat untuk melakukan perjalanan menuju target point kami selanjutnya yakni Madakaripura. Menurut schedule yang kami buat, akan memakan waktu kurang lebih 30 menit untuk mencapai titik awalnya.
Pukul. 10.00 Wib, kami sampai di Pasar Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Hanya saja perjalanan terpaksa kami hentikan karena hujan tiba-tiba datang dan begitu derasnya. Kami berhenti sejenak di sebuah warung makan, karena perut kosong kami seolah meminta untuk segera diisi. Sempat terjadi obrolan dengan ibu pemilik warung itu, ku mencari tau info gambaran Madakaripura. Menurut penuturan beliau, air terjun yang menjadi pusat perhatian tempat tersebut terdiri dari 7 air terjun. Dan akses menuju kesana memakan waktu sekitar 1,5 jam, dengan medan yang cukup berliku-liku. Bahkan menurut dirinya, akses jalan menuju ke air terjun tersebut sangat berbahaya apabila kita melakukan perjalanan saat hujan tiba. Namun apa yang telah diungkapkan ibu warung tersebut tidak sedikitpun menyurutkan niatan kami bertualang di situs sejarah sang legend jaman kerajaan Majapahit.
Pukul 12.00 siang, kami sampai di titik awal kawasan Madakaripura. Setelah kami lakukan proses ticketing, kami langsung di sambut oleh beberapa orang guide lokal yang menawarkan jasa untuk mengantar kami menyusuri sungai menuju air terjun Madakaripura. Tadinya kami enggan menggunakan jasa tersebut namun berhubung diantara kami belum ada yang pernah datang ke tempat ini, maka kami putuskan untuk memakai jasa salah satu guide lokal yang ada.
Susur sungai kami lakukan dengan berjalan kaki sambil di pandu seorang guide lokal, melihat kondisi lapangan yang ada sempat kami merasa down karena susur sungai yang kami lalui tak juga sampai-sampai ke target point kami. Perjalanan harus kami lakukan selama 1,5 jam untuk menuju titik air terjun yang disebut-sebut merupakan wilayah pertapaan Patih Gajah Mada setelah beliu dinyatakan bersalah dan harus lengser dari jabatannya sebagai maha patih kerajaan Majapahit setelah perang Bubat berkecamuk.
Sepanjang perjalanan menuju air terjun tersebut kami melihat banyak warga lokal yang memberikan jasa dan menjual beberapa makanan, setidaknya jika kami merasakan kelaparan dan kehausan di tengah perjalanan kami tetap bisa menikmati secangkir kopi panas dan pisang goreng yang ehm...yummy rasanya. Namun kami bertekad untuk sesegera mungkin sampai di air terjun tersebut, sehingga godaan makanan enak tersebut terpaksa kami tunda sejenak untuk menikmatinya.
Kami melewati tebing-tebing tinggi yang berada di kawasan air terjun tersebut, sungguh indah nampaknya lukisan alam disini. Apalagi ketika kami mencoba menyeburkan diri di cekungan tempat air terjun tertampung setelah melayang-layang setinggi 200 meter. Wuih...Keren sekali !!! rasanya gak ingin berlama-lama mikir, akhirnya kami putuskan untuk mandi di air terjun yang ada. Rasanya rasa lelah, marah bahkan asa yang kami bawa dari kota lepas sudah di sini, di tempat ini. Apapun kami teriakkan untuk membuang kesal yang kami rasakan dan penat kami selama menjalankan hari-hari penuh rutinitas kemarin. Puas kami menikmati dan melihat dari dekat situs sejarah Majapahit ini maka kami putuskan untuk turun, hanya butuh waktu sekitar 1 jam untuk kembali lagi ke titik awal.
Selamat tinggal Madakaripura !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar